Ibu ku…

Posted: 19 January 2011 in Inspirasi / Inner Strength

Aku pernah mempunyai Ibu yang hebat. Beliau sangat menyayangiku dengan sepenuh

hatinya. Beliau berkorban dan membantu aku dalam segala hal. Ibuku membesarkanku

dengan curahan kasih sayang, serta sangat saksama seperti menating minyak penuh.

Ibulah yang dengan susah payah mengusahakan pendidikanku hingga aku berumah tangga.

Hari ini, perempuan yang luar biasa itu telah kami semayamkan untuk selama-lamanya.

 

Dan bayangkan perasaanku, ketika beberapa hari kemudian aku pergi ke rumah Ibu, dan

menemukan secarik kertas terlipat sunyi di laci mejanya yang siap akan dikirimkan.

Inilah bunyinya :

 

” Inilah waktunya.

Jika kau mencintai ibu, cintailah sekarang supaya ibu tahu.

Merasakan keindahan, kelembutan kasih yang tumpah dari sanubarimu.

Cintailah, manjakanlah ibu sekarang semasa ibu masih hidup.

Usah tunggu hingga ibu pergi.

Kemudian barulah engkau ukir rasa kasihmu di batu nisan.

Dengan kata-kata indah pada sekujur batu yang diam.

 

Jika kau memiliki ingatan manis buat diri ibu, tunjukkanlah sekarang.

Jangan tunggu sampai ibu mati, karena ibu pasti tak dapat mendengarnya.

Oleh karenanya jika kau mencintai ibu, walaupun hanya setitik saja dari lautan hidupmu,

nyatakan dan buktikan sekarang, sementara ibu masih hidup.

Agar ibu dapat menikmati dan menyanjungnya ”

 

Sekarang Ibu telah pergi dan aku menyesal sebab aku tak pernah sedikitpun menyatakan

betapa besar arti Ibu selama ini. Aku berbicara, melayani semua orang untuk urusanku.

Tapi aku tak pernah meluangkan waktu untuk melayani Ibu walaupun hanya sejenak.

Sebenarnya aku mampu menuangkan teh kedalam cangkirnya, mengajak Ibu berjalan-jalan

atau sekedar memeluknya erat ketika sarapan.

Jika aku menelpon Ibu kulakukan dengan cepat dan singkat. Sebaliknya aku lebih mengutamakan

teman-teman di jejaring sosial, menghadiri pertemuan sosial tanpa pernah melibatkan ibuku.

 

Aku terus mengingat betapa banyak waktu yang ia berikan kepadaku. Bahkan beliau

dengan senang hati membantu mengurus anak-anakku jika aku sibuk bekerja.

Mereka

sangat menyayangi neneknya; karena sejak kecil neneknyalah yang lebih dekat.

 

Aku dilanda penyesalan yang tiada ujung.

Dengan peristiwa ini, aku berharap anak-anak lain akan dapat memahami, menghargai para

Ibu mereka.

Ibu yang telah memberikan kasih sayang yang melimpah tanpa syarat sepanjang hidupnya.

[Sumber : Anonim]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s